Desa Adat Ratenggaro, Gerbang Waktu ke Masa 4.500 Tahun Lampau

0
91

Memasuki kawasan Desa Adat Ratenggaro membuat para pengunjungnya serasa kembali ke jaman megalithikum sekitar 4.500 tahu yang lalu. Di saat masih terdapat kuburan batu tua di sekitar perkampungan.

Desa Adat Ratenggaro ini letaknya berdekatan dengan Pantai Ratenggaro. Dari desa adat juga bisa liat langsung pantainya.

Ratenggaro meruapakan desa adat yang masih memegang teguh dan melestarikan adat dan tradisi peninggalan leluhurnya terbukti dari masyarakatnya yang masih menganut tradisi Marapu sama seperti kampung-kampung lain di Kabupaten Sumba Barat Daya pada umumnya.

Ratenggaro sendiri memiliki arti yaitu ‘Rate’ yang berarti kuburan, sedangkan ‘Garo’ yang artinya orang-orang Garo. Jadi konon katanya dahulu kala ketika masih terjadi perang antar suku. Pada zaman itu, suku yang kalah perang akan dibunuh dan dikubur di tempat itu juga.

Kampung adat ini memiliki keunikan pada rumah adatnya (Uma Kelada) yang memiliki ciri khas menara menjulang tinggi mencapai 15 meter.  Atapnya menggunakan bahan dasar jerami dan tinggi rendahnya atap didasarkan atas status sosial mereka.

Lokasi Desa Adat Ratenggaro

Desa Adat Ratenggaro adalah sebuah kampung adat yang terletak di Desa Umbu Ngedo, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Kecamatan Kodi Bangedo berjarak kurang lebih 40km dari Tambolaka

Rute Menuju Desa Adat Ratenggaro

Pesawat dari Jakarta akan mendarat di Bandar Udara Tambolaka, setelah transit dan berganti pesawat dengan yang berbaling-baling di Denpasar. Ongkos tertinggi Rp 3 juta untuk pergi-pulang.

Kampung Adat Ratenggaro terpisah sejauh 56 kilometer dari Tambolaka)-ibu kota Kabupaten Sumba Barat Daya. Akses jalanan dari Tambolaka menuju Ratenggaro dapat ditempuh dalam waktu 1,5 hingga 2 jam dengan kondisi jalan beraspal yang terpelihara baik.

Untuk ke sana, Anda bisa menyewa mobil seharian Rp 500 ribu, menggunakan ojek Rp 200-250 ribu, dan naik bemo atau oto (Rp 10 ribu). Oto sebutan orang Sumba untuk angkutan umum berupa minibus.

Setelah berhenti di Kota Kecamatan Bondo Kodi, lalu dilanjutkan naik ojek ke Ratenggaro Rp 20 ribu.

Jam Buka Desa Adat Ratenggaro

Desa Adat Ratenggaro terbuka 24 jam sepanjang pekan untuk dikunjungi. Dengan demikian pengunjung bisa leluasa mengatur waktunya sesuai dengan kesempatan yang dimiliki.

Namun demikian tidak disarankan untuk datang berkunjung di malam hari. JIk aingin mneginap, datanglah saat hari masih terang, dan dilanjutkan dengan menginap.

Tiket Desa Adat Ratenggaro

Mengenia tiket masuk ke wilayah kampung, tidak ada ketentuan sola ini. Jadi secara teknis wisata ini Gratis.

Daya Tarik Desa Adat Ratenggaro

1. Rumah Adat

Desa Adat Ratenggaro memiliki keunikan pada rumah adatnya yang disebut Uma Kelada. Uma Kelada memiliki ciri khas berupa menara menjulang tinggi mencapai 15-20 meter. Atapnya berbahan dasar jerami dan tinggi rendah atapnya didasarkan atas status sosial mereka.

Bangunannya berbentuk seperti rumah panggung yang terdiri dari 4 tingkat dengan fungsi yang berbeda. Tingkat paling bawah digunakan sebagai tempat hewan peliharaan. Tingkat kedua diisi oleh pemilik rumahnya tinggal.

Di atas ruang tempat tinggal pemilik, adalah tempat untuk menyimpan hasil panen. Kemudian di atas tempat memasak terdapat sebuah kotak yang digunakan sebagai tempat menyimpan benda keramat. Sedangkan tingkat teratas adalah tempat untuk meletakkan tanduk kerbau sebagai simbol kemuliaan.

Tipikal rumah adat di Desa Ratenggaro hampir sama seperti orang Flores dan orang Toraja di mana di umahnya terdapat rahang babi dan tanduk kerbau yang digantung sebagai simbol bahwa orang yang memiliki rumah tersebut pernah melaksanakan upacara adat.

2. Rumah Adat Sakral

Ada empat buah rumah khusus yang sangat disakralkan penduduk setempat, yaitu Uma Katoda Kataku dan Uma Kalama, sebagai simbol dari ibu. Serta Uma Katoda Kuri dan Uma Katoda Amahu, sebagai simbol dari saudara ayah dan ibu.

Posisi rumah-rumah ini mewakili empat penjuru mata angin dan letaknya saling berhadapan.Uma Katoda berada di bagian paling selatan dan menghadap ke utara. Rumah itu berhadapan dengan Uma Kalama, yang menghadap ke selatan.

Uma Katoda Kuri berada di timur menghadap ke barat, berhadapan dengan Uma Katoda Amahu yang menghadap ke timur. Pendiri kampung tinggal di Uma Katoda Kataku yang berada paling selatan menghadap ke utara untuk mengingatkan bahwa leluhur mereka berasal dari utara.

Pada tiang-tiang utama empat buah rumah khusus tersebut, di tiang utamanya terdapat cincin atau gelang. Posisi dan jumlah rumah-rumah yang terdapat di Desa adat Rateranggo tidak pernah berubah dari dahulu dan semuanya terbuat dari bahan-bahan alami yang terdapat di sekitar mereka.

3. Kubur Batu

Konon katanya dahulu kala ketika masih terjadi perang antar suku, suku dari orang yang sekarang menjadi penghuni desa ini berhasil merebut wilayah desa orang-orang Garo. Pada zaman itu, suku yang kalah perang akan dibunuh dan dikubur di tempat itu juga.

Terdapat 304 buah kubur batu dan 3 di antaranya berbentuk unik dan terletak di pinggiran laut. Ukuran dan pahatan pada tiap kubur batu semakin menambah kesan magis dan mendalam pada peninggalan leluhur.

Bentuknya yang menyerupai meja datar dan berukuran besar terlihat sangat kokoh. Meskipun setiap harinya selalu terkena hantaman angin kencang dari arah laut yang terletak di belakang kampung.

Selain batu kubur leluhur atau raja, terdapat pula batu kubur warga Rotenggaro lainnya dengan ukuran yang lebih kecil.

4. Pantai Rantenggaro

Pantai Ratenggaro ini letaknya deketan sama Desa Adat Ratenggaro. Sekitar kurang dari 5 menit lah kalau naik kendaraan dari Desa Adat ke pantai ini. Dari desa adat juga bisa liat langsung pantainya. Di pantai ini juga banyak makam-makam batu dan beberapa makam yang dipahat juga.

Pantai Ratenggaro masih alami dan sangat bersih. Garis pantai ditandai oleh pasir putih hingga air kristal. Suara air ombak bisa terdengar dari desa sebelah. Setiap malam, ada penduduk lokal yang berkunjung ke pantai.

Salah satu keunikan pantai adalah bahwa Ratenggaro terletak tepat di muara sungai dengan air biru. Saat berjalan di sekitar pantai, pengunjung akan melihat salah satu kuburan setinggi 3 meter. Ini adalah makam dari Putra pendiri Desa Adat Rantenggaro.

Tips Mengunjungi Desa Adat Ratenggaro

Pakaian kasual karena udara sangat panas.

Sepatu dengan sol agar terhindar karang.

Taat kepada semua tata krama kampung adat. Hampir semua peraturan adat di Ratenggaro tak tertulis. Salah bertingkah bisa jadi terkena sanksi berat.

Kunjungan ke Sumba sebaiknya dilakukan bersamaan dengan Upacara Pasola, yang  merupakan hajatan besar bagi rakyat Sumba. Pada Februari, Pasola diadakan di kawasan Lamboya dan Kodi. Sedangkan pada Maret, Pasola mengambil tempat di Wanukaka dan Gaura.

Objek Wisata Dekat Desa Adat Ratenggaro

Selain wisata budaya di desa adat Ratenggaro, Sumba Barat Daya juga memilki wisata laam yang tidak aklah cantiknya.

Yang pertama ada Pantai Pero.  Pantai yang menawarkan eksotisme alam yang benar-benar luar biasa indahnya. Enak dikunjungi sembari berbincang dengan keluarga di sore hari. Membuat suasana semakin akrab dan nyaman. Di sini pengunjung bisa melihat indahnya pemandangan alam ketika matahari berangkat pulang.

Ke dua ada Pantai waikuri. Disebut sebagai tempat wisata pantai yang menjadi primadona, pantai ini menawarkan keindahan alam yang benar-benar luar biasa. Sekeliling pantai terdapat bukit-bukit kecil yang ditumbuhi dengan pohon-pohon yang berwarna hijau. Membuat tempat ini semakin berwarna membuat mata enggan untuk berkedip

Itulah sedikit hal daya tarik Desa Adat Ratenggaro, di Sumba Barat Daya. Yang tentunya masih sebagian kecil saja dari apa yang bisa ditemukan oleh pengunjung jika kita datang berkunjung ke Desa Adat ini.

Nah sekarang, apa kamu sudah siap menjelajahi Pulau Sumba?

sumber : https://www.nativeindonesia.com/desa-adat-ratenggaro/


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini